HIK – Mar 24 2017

HIK – HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
Jumat, 24 Maret 2017
Pekan III Prapaskah
Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34

“Si vis amari, ama – Jika ingin dicintai, cintailah!”
Itulah kutipan dari karya Publilius Syrus yang juga saya tulis pada buku “Carpe Diem” (RJK, Kanisius) dan merupakan pesan pokok hari ini.

Ya, Yesus sang KASIH menegaskan bahwa esensi semua hukum terbagi menjadi dua matra besar, yakni relasi dengan Allah/dimensi vertikal serta relasi dengan sesama/dimensi horisontal: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati-jiwa-akal budi dan kekuatan” serta “Kasihilah sesamamu seperti dirimu”.

Adapun 3 ciri dasarnya, antara lain:

1. “Caritas adalah dasarnya”:
Kasih untuk Tuhan dan kasih untuk sesama berarti “ngasih”, mau memberi karena kasih juga bisa berarti “Ketika Allah Selalu Ingin Hadir”? Ya karena percaya bahwa Allah telah mengasihi kita, maka juga diajak untuk selalu menghadirkan Allah dengan hidup ber-nada dasar C, “Cintakasih”.
Yang pasti, bisa saja kita memberi tanpa mencintai tapi mustahil kita mencintai tanpa memberi bukan?

2. “Totalitas adalah semangatnya”:
Kasih itu harus segenap hati (pusat rasa), segenap jiwa (pusat kehendak), segenap akal budi (pusat pemikiran) dan segenap kekuatan (pusat tindakan). Kasih adalah kasih yang utuh menggumpal bukan yang abal-abal, kasih yang tulus bukan yang penuh akal bulus, kasih yang sepenuh hati bukan yang setengah hati, kasih yang asli bukan yang basa-basi karena kasih itu bisa dirasakan hati-diresapkan jiwa-dipikirkan akal budi dan diwartakan dalam tindakan nyata lewat karya yang murah hati, ucapan yang memberkati dan doa yang semakin sepenuh hati.

3. “Vitalitas adalah buahnya”:
“Dimana ada kasih disitu ada kehidupan – where there is love there is life”. Ya, kasih itu jelas menghidupkan. Ia tegas memberi kehangatan laksana matahari setelah hujan. Ia membuat kita “vital” (hidup) karena hidup tanpa kasih ibarat pohon tanpa bunga. Dengan tindakan kasih, hidup kita semakin bernilai, “losta masta – bikin hidup lebih hidup”, menjadi “giver” dan bukan “taker”.

Yang pasti, dialog kasih Yesus dan ahli Taurat hari ini memperlihatkan bahwa mereka akrab dan tahu banyak tentang isi kitab suci dan hukum agama. Tapi, ada hal yang lebih penting daripada sekedar tahu yaitu pelaksanaannya. Mari kita laksanakan kasih itu. Human change by acting on it!

“Cari pita di balik dipan – Wartakanlah cinta dalam kehidupan.”

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux – Be the Light –
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

NB:
1.
“Deus caritas est – Allah adalah kasih!”

Inilah ensiklik kepausan dari Paus Emeritus Benediktis XVI yang kembali mengggema di hati ketika Yesus bersabda:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Markus 12:30).
Hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan rupanya merangkum seluruh diri kita. Dengan kata lain: kasih mengandaikan totalitas, sebuah sikap yang utuh penuh-menyeluruh dan tidak mudah luruh.

Tentu saja hal ini tidak mudah untuk dilakukan, karena dalam kenyataannya kasih kepada Tuhan mungkin menjadi nomer ke-sekian dalam hidup kita, bukan?

Arus modernitas: materi dan teknologi menyebabkan kita lebih menyembah dan mencintai hal-hal indrawi daripada Tuhan yang ilahi.

Lebih lanjut, kasih yang penuh dan utuh itu ternyata tidak hanya berpola vertikal tapi mesti berpola “salib” (vertikal+horisontal).

Artinya?
Kasih kepada sesama merupakan wujud nyata dari kasih kita kepada Allah dalam hidup kita: “Dan hukum yang kedua ialah: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'” (Markus 12:30-31).

Itu berarti kita tidak bisa mengasihi Tuhan (yang tidak kelihatan), jika tidak mengasihi saudara/orang-orang di sekitar (yang kelihatan). Sepanjang hidupnya, Yesus menampakkan kasihNya kepada Allah dengan pelbagai tindakan kasihNya yang nyata terhadap sesama, bukan?

Akhirnya, jadikanlah kasih sebagai jantung dalam hidup kita. Jantung yang dapat membuat hidup kita lebih hidup. Kasih ilahi dan kasih insani akan membuat hidup kita menjadi lebih damai, karena dengan menghadirkan dan membagikan kasih, tidak ada lagi pintu yang terbuka bagi masuknya dendam dan kebencian karena kasih sejatinya adalah jalan masuk untuk hidup bersama Allah, “sebab Allah adalah kasih” (Yoh 4, 8.16).

“Ada selasih ada di Pasar Turi – Andalkan kasih setiap hari.”

2.
“Amor vincit omnia – Cinta mengalahkan segalanya.”

Itu sebabnya Yesus mewartakan bahwa kita mesti memiliki “KTP” antara lain:

A.K: Karitas:
Perintah utama adl “karitas” (kasih): “Kasihilah Tuhan Allahmu dan sesamamu. Inilah kasih yg berpola salib, vertikal dan horisontal.

B.T: Totalitas:
Kasih itu mesti total, dg segenap hati-segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan.

C.P: Prioritas:
Kita diajak mengutamakan Tuhan 100 % krn inilah landasan dan ringkasan dari keseluruhan hukum dan perintah Allah.

Adapun pertanyaan mengenai hukum terutama ini diajukan oleh seorang ahli Taurat, dimana jawaban Yesus tdk mengacu kpd tradisi para ahli Taurat tp kepada hukum tertulis (Ul 6:4,5).

Hukum yang kedua juga dikutip dari Imamat 19:18, dimana terdapat landasan dan ringkasan dari kewajiban manusia terhadap sesamanya yg melandasi ajaran ttg seluruh Hukum Taurat dan kitab para Nabi (Mat. 22:40).

Pastinya, kedua hukum utama yg mengajak kita memiliki “KTP” ini ada untuk saling melengkapi karena hukum itu meringkas hukum yang tertulis pada dua loh batu yang diterima Musa.

Hukum itu menyatakan kewajiban manusia kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama.

Dengan sabda ini, Yesus mengajarkan kepada kita supaya saling mengasihi seperti Dia mengasihi.

Jelasnya, Allah adalah kasih dan segala yang dilakukan-Nya mengalir dari kasih-Nya kepada kita semua. Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Kita pun mengasihi-Nya sebagai jawaban atas rahmat dan kebaikan yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita.

“Dari Goa Maria Sriningsih ke Kaliori – Andalkanlah kasih setiap hari.”